Jakpro Prakarsai Pembentukan Koperasi, Warga Papanggo Protes

Zet Muliawan (tiga dari kiri) sat mengikut fokus diskusi dalam rangka pembentukan koperasi oleh JIS/Jakpro di Hotel Arcici, JL. Sunter Permai, Jakarta Utara. (dok)

TANJUNG PRIOK, JAKUTNEWS –  Jakarta Propertindo (Jakpro) sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta saat ini sedang garap proyek raksasa yaitu Stadion bertaraf international yang dikenal dengan sebuatan Stadion BMW (Bersih, Manusiawi, Berwibawa, red).

Disela-sela kesibukan aktivitas proyek, managemen Jakpro memprakarsai untuk membuat koperasi bagi warga Kampung Kebun Bayam. Jakpro memfasilitasi pertemuan/pembahasan pembuatan koperasi di Hotel D”Arcici Papanggo di Jl. Sunter Permai Raya, Jakarta Utara, pada Kamis (7/11/2019). Jakpro juga mengundang unsur pemerintahan, seperti Lurah, Camat dan Dinas Koperasi, UMKM DKI Jakarta, serta Ketua RW 08 Papanggo dan warga kampung Kebun Bayam.

Target yang direncanakan oleh Jakpro pada pertemuan di hotel yang berlangsung siang hingga malam hari itu adalah terbentuknya pengurus formatur koperasi bentukan Jakpro. Namun rencana itu bisa dibilang gagal setelah adanya protes dari warga Papanggo.

Zet Muliawan, warga RW 03 Papanggo juga selaku Ketum Putra Wilayah Papanggo, menegaskan bahwa pihaknya sebagai putra asli wilayah papanggo tidak mendukung prakarsa Jakpro yang dinilai telah memonopoli kepentingan. Menurutnya, koperasi yang di prakarsai Jakpro justru dapat menimbulkan kecemburuan sosial ditengah masyarakat papanggo.

Hal itu terbukti, kata dia, dengan tidak diikut sertakannya unsur-unsur masyarakat Papanngo, keculi Ketua RW 08 Papanggo. Selain itu, pertemuan di sebuah hotel sangat melukai nilai sosial masyarakat.

Foto: dokumen undang Jakpro dalam rangka pembentukan koperasi dinilai berdampak menimbulkan ketidak adilan bagi warga Papanggo. (dok)

“Mengapa harus pertemuan di hotel? bila tujuannya untuk pemberdayaan masyarakat Papanggo secara keseluruhan seharusnya cukup di kantor publik kelurahan saja. Biar lebih transparan, dan banyak warga Papanggo lainnya mengetahui. Bila di hotel ini terkesan pertemuan apa, apalagi yang dibahas koperasi ujung-ujungnya bagi untung, bagi hasil. Memang tidak sekarang tapi nanti setelah stadion jadi 2-3 tahun mendatang. Terus kami warga Papanggo asli suruh jadi penonton gitu saja,” tanya Zet, Jumat, 8/11/2019.

“Warga Papanggo juga ingin diberdayakan, siapa yang tak ingin masyarakatnya sejahtera. Jadi Pak Dirut Jakpro tolong dibedakan antara kepentingan saudara kami warga kampung kebun bayam dengan warga papanggo,” harapnya.

Zet menilai Jakpro telah memfasilitasi keinginan warga kampung kebun bayam namun dengan kebijakan yang keliru.

“Kami putra, dan penduduk asli Papanggo seharusnya kami mendapat prioritas. Sementara mereka warga Kampung Kebun Bayam itu umumnya adalah pendatang yang menempati lahan-lahan kosong sebelum proyek dibangun. Kami sangat mendukung proyek Stadion BMW, kami bangga sebagai putra Papanggo. Silakan saja buat kebijakan asalkan tidak mencederai penduduk asli papanggo, kami ingin ada keadilan dan pemerataan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papanggo,” tandansya.

Ia mengungkapkan bahwa organisasinya (PWP) telah diketahui oleh Lurah dan tokoh masyarakat Papanggo lainnya. Bahkan melalui wadahnya banyak melakukan aktivitas pembinaan seni dan budaya kepada remaja dan pemuda Papanggo, termasuk kegiatan sosial.

“Seharusnya bila ada pertemuan-pertemuan menyangkut kebijakan di masyarakat Papanggo seperti itu, kami dapat direkomendasi, agar kami juga dapat berpartisipasi secara posistif. Bukan sembunyi-sembunyi seperti itu,” tegasnya.

Sementara, Dinas Koperasi dan UMKM DKI Jakarta dalam arahannya menyebutkan pembentukan koperasi oleh JIS (Jakarta Internasional Stadium/Jakpro) skalanya harus lebih jelas. 3 Hal pilihan yang disebutkannya apakah setingkat provinsi, tingkat Kota atau setingkat kelurahan papanggo.

“Ketentuan sudah di jelaskan boleh 3 pilihan koperasi tingkat DKI, tingkat Jakarta Utara atau tingkat Kelurahan,” kata Kasudin Koperasi dan UMKM Jakarta Utara, yang hadir saat itu.

Pihak Jakpro sendiri saat dikonfirmasi tak bersedia penjelasnya menjadi asumsi berita kabarSBI.com.

Foto: dokumen/red.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah mengatakan, Pemprov DKI akan membebaskan lahan di Kampung Kebun Bayam, Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang selama ini diduduki warga. Lahan di sekitar Taman BMW itu akan digunakan untuk sarana pendukung pembangunan kawasan Jakarta International Stadium.

“Saya rasa ( pembebasan lahan) yang paling dekat itu Taman BMW. Itu, kan, sudah groundbreaking (stadion). Ada namanya Kampung Bayam,” ujar Saefullah di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, seperti di kutip kompas.com.

Saefullah menyampaikan, ada ratusan kepala keluarga (KK) yang akan terdampak pembebasan lahan di Kampung Kebun Bayam. Warga yang tidak memiliki rumah dan sertifikat tanah akan direlokasi ke rumah susun terdekat. Sementara itu, warga yang memiliki bukti hak atas tanah akan mendapatkan uang pembayaran atas pembebasan lahan.

Catatan redaksi, Stadion BMW dominan berdiri di wilayah/lingkungan kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara diapit dua wilayah lainnya yaitu kelurahan Sunter Agung dan Kelurahan Tanjung Priok.

Terkait warga kampung kebun bayam dahulu berada di area yang sekarang menjadi proyek stadion BMW. Karena lahan digunakan pembangunan warga kampung kebun bayam ditertibkan pemkot Jakarta Utara dan bergeser/bergabung mengisi lahan kosong di antara lahan BMW dan PJKA. Warga kampung kebun bayam sendiri mengklaim berada di wilayah RT 10 RW 08 Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (sbi)

Leave a Reply