Mahasiswa UTA 45 Sebut DPP LAMPT Kes Tidak Adil dan Transparan

Mahasiswa UTA 45 Sebut DPP LAMPT Kes Tidak Adil dan Transparan

Rudiyono Darsono, Pembina Yayasan UTA 45.

PENDIDIKAN (TANJUNG PRIOK) – Puluhan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45) Jakarta menyambangi Kantor DPP perkumpulan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAMPT Kes) Untuk mempertanyakan Status yang di keluarkan LAM-PTKes. Perwakilan Mahasiswa menuntut transparansi atas nilai akreditasi.

“Kita menuntut transparansi atas nilai akreditasi yang dikeluarkan dan meminta agar LAMPTKES berbuat adil dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Semua persyaratan, fasilitas. malah Staff pengajar yang ada di kampus sudah mempunyai komposisi rasio dosen yang lebih baik dengan apa yang ada pada kampus-kampus lain, Rasio dosen kami 1:20 dengan jumlah mahasiswa. Kami minta LAM-PTkes Berlaku adil dan sportif kepada Kampus kami,” ujar Ayub Ibrahim, perwakilan Mahasiswa UTA 45 Jakarta, dalam siaran pers yang diperoleh jakutnews, Kamis, 12/4/2018.

Menurutnya, perkumpulan LAM-PTkes merusak masa depan mahasiswa profesi Apoteker UTA’45 Jakarta, dengan menurunkan akreditasi kampus profesi Apoteker dari B jadi C.

“Padahal banyak perubahan perbaikan yang signifikan dari segi kurikulum, fasilitas, dosen dan guru besar universitas negeri yang ditambah dan diperbarui, yang justru lebih baik kondisinya di banding kampus yang mendapat Akreditasi A dari LamPT Kes, ada apa ini?” tanya dia.

“Dan beberapa fasilitas di profesi Apoteker UTA ’45, ada yg tidak dimiliki kampus yang memiliki nilai akreditasi A di Indonesia. Jika Netralitas juga tidak terlaksana, maka kami akan melakukan aksi Yang lebih besar lagi dan sasarannya pun ke DPR dan Istana Presiden agar Perkumpulan ORMAS LamPTKes segera di tutup dan di SE ke BAN PT”, tandas Ayub.

Robert Selaku koordinator lapangan mahasiswa yang Berorasi didepan kantor Perkumpulan Lam-PTKes mengatakan, mahasiswa UTA 45 menuntut LAM-PTkes memperhatikan aspirasi mahasiswa untuk keadilan. Selain itu, transparansi dalam memberikan penilaian kepada kampus UTA 45.

“Seandainya kehadiran mahasiswa UTA 45 yang sebagaian kecil ini tidak di apresiasi maka Seluruh mahasiswa UTA 45 akan kembali lagi untuk menyalurkan aspirasinya dalam demo yang akan datang, apalagi status kantornya saja ngontrak rumah seperti ini, sudah gitu akhir tahun ini habis masa kontraknya.” pungkasnya.

Dijumpai dikampus, disela-sela rapat jajaran petinggi Yayasan UTA’ 45. Rudyono Dharsono Pembina Yayasan UTA 45, mengatakan pada media bahwa pihaknya sangat terpukul.

“Sebagai akademisi dengan kejadian ini, kami sangat terpukul, dan akan mempelajari semuanya hasil penilaian LAMPTKES. Pertama, yang kita pelajari adalah kekurangan kami, Intropeksi kedalam dimana kurangnya, kemudian Saya Perintahkan Jajaran Pimpinan Yayasan dan Universitas untuk melakukan perbandingan ke Kampus-kampus swasta dan negeri seperti Universitas Pancasila, sampai Universitas Indonesia (UI). Dan hasilnya kami Rapatkan semuanya, dari fasilitas, laboratorium, rasio dosen pengajar dan lainnya, ada beberapa dari fasilitas kami yang malah lebih baik,” jelas Rudyono.

Sementara itu, sekretariat LAMPT Kes saat dikonfirmasi melalui sambungan saluler sedang tidak aktif dan berada diluar jangkauan. di lansir situs lamptkes.org domisili kantor tersebut berada di Jalan Sekolah Duta 1 No.62 Rt.003 Rw.014 Kelurahan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (benny ps/r)

Leave a Reply