PKK Ancol Bercita-cita Ekspor Hasil Kerajinan dari Limbah Koran

PKK Ancol Bercita-cita Ekspor Hasil Kerajinan dari Limbah Koran

Pelatih dan ketua TP-PKK Ancol Utami Palupi (dua dari kanan) bersama tim pengrajin. (dok)

ANCOL – Gerakan ekonomi keluarga sedang digalakkan masyarakat Ancol, di bawah naungan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kelurahan Ancol yang di ketuai oleh Dyah Utami Palupi Sumpeno membawa harapan peningkatan masyarakat Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

“Saya bercita-cita bisa ekspor dari hasil kerajinan tangan dengan menggunakan limbah koran menjadi barang antik yang bernilai ekonomis. Inginnya bisa sampai ekspor, sejauh ini pemasaran kami sudah sampai ke Cirebon dan Purworejo,” ungkap Utami Palupi, istri Lurah Ancol Sumpeno mengawali perbincangannya dengan jakunews.com, Senin, 23/10/2017.

Ia menceritakan awalnya ide pembuatan kerajinan limbah koran menjadi barang antik dari internet melalui tutorial di youtube, sekitar bulan Maret lalu. Setelah di pejari dan di praktekan langsung hasilnya sangat cukup memuaskan.

“Saya coba bikin hasilnya bagus. Selanjutnya saya arahkan agar kader PKK dapat memberdayakan limbah koran agar dikumpulkan dan dijadikan karya seni yang mempunyai nilai ekonomi untuk membantu pendapatan ibu rumah tangga,” kata wanita berkerudung yang menggeluti hobinya itu.

Alasan Uut sapaan akrabnya, dirinya melakukan itu selain dapat mengurangi limbah rumah tangga juga dapat membantu ekonomi warga. Apalagi, saat ini, kata dia, sedang di galakkan ekonomi kreatif dari pelaku usaha kecil oleh Pemprov DKI Jakarta.

“Kalau kegitan pembuatan kerajinan tangan dari bahan koran kami pusatkan di ruang PKK Kelurahan Ancol, pesertanya ada belasan orang. Masing-masing RW di Ancol ada dua orang yang jadi pengrajin. Bisa juga dikerjakan di rumah untuk sambilan tapi untuk perakitannya kita kumpul di kelurahan,” jelasnya.

Karya yang dihasilkan dari limbah koran itu, kata dia, ada beberapa jenis seperti kerangjang aqua gelas, keranjang buah, tempat tissu, toples, mobil-mobilan dan lainnya. Barang unik tersebut di bandrol seharga Rp 40 ribu sampai Rp 150 ribu/buah.

“Cara pembuatannya tidak sulit cuma butuh ketelatenan, fokus dan sabar agar hasilnya rapih dan menarik. Selain koran bekas diperlukan juga lem, plitur, pernis, gunting, cutter, paralon dan kuas.”

“Kalau kita fokus satu jenis barang bisa dikerjakan dalam waktu dua jam sudah jadi, tapi proses plistur tergantung panas matahari. Sejauh ini kita bikinnya perbagian, ada bagian gulung dasar, ada yang bikin gulungan seperti roda, ada juga yang bikin alas, ada yang merakit. Kalau kerja bersama-jadi lebih cepet hasilnya,” tuturnya.

Lebih jauh, kata dia, pihaknya juga akan berinovasi untuk mengembangkan karyanya yang lain seperti membuat lampion, lampu tidur, dan lainnya.

“Alahmadulillah sampai sejauh ini hasil dari kerajinan tangan kader PKK dapat di rasakan masyarakat. Biasanya hasil kami belikan sembako tuk Ibu-ibu sisanya kami jadikan untuk modal usaha lagi,” terangnya.

Kedepan dijelaskannya pihak perusahaan yang ada di wilayah Ancol sudah melirik para pengrajin koran bekas. Adalah PT Asahimas Flatglass yang akan memberi bantuan bahan dan peralatan, pelatihan pembukuan, termasuk pemasaran.

“Kami juga lakukan pemasaran mulai lingkungan kami sendiri hingga event-event yang dilaksanakan di kelurahan, kecamatan, walikota dan media sosial. Tekad kami ingin kerajinan ini dapat terus berkembang,” harapnya.

Bukan hanya itu, ia juga melakukan kerajinan tangan dari limbah bungkus kopi untuk di jadikan tas, tiker, dan lainnya.

Baginya sebagai kader PKK sudah kewajibannya untuk membantu ekonomi masyarakat termasuk juga dalam meningkatkan gotong royong, pangan, sandang, pendidikan dan ketrampilan, kesehatan, kelestarian lingkungan dan pola hidupĀ  sehat.

Leave a Reply